INFORMASI MENGENAI PENDIDIKAN
UNTUK ANAK TUNADAKSA
UNTUK ANAK TUNADAKSA
I. SIAPAKAH ANAK TUNADAKSA
Istilah yang sering digunakan untuk menyebut anak tunadaksa,
seperti cacat fisik, tubuh atau cacat orthopedi. Dalam bahasa asingpun
sering kali dijumpai istilah crippled, physically handicapped,
physically disabled dan lain sebagainya. Keragaman istilah yang
dikemukakan untuk menyebutkan tunadaksa tergantung dari kesenangan atau
alasan tertentu dari para ahli yang bersangkutan. Meskipun istilah yang
dikemukakan berbeda-beda, namun secara material pada dasarnya memiliki
makna yang sama.
A. Pengertian Anak Tunadaksa
Tunadakasa berasal dari kata “ Tuna “ yang berarti rugi, kurang dan
“daksa“ berarti tubuh. Dalam banyak literitur cacat tubuh atau
kerusakan tubuh tidak terlepas dari pembahasan tentang kesehatan
sehingga sering dijumpai judul “Physical and Health Impairments“
(kerusakan atau gangguan fisik dan kesehatan). Hal ini disebabkan karena
seringkali terdapat gangguan kesehatan. Sebagai contoh, otak adalah
pusat kontrol seluruh tubuh manusia. Apabila ada sesuatu yang salah pada
otak (luka atau infeksi), dapat mengakibatkan sesuatu pada fisik/tubuh,
pada emosi atau terhadap fungsi-fungsi mental, luka yang terjadi pada
bagian otak baik sebelum, pada saat, maupun sesudah kelahiran,
menyebabkan retardasi dari mental (tunagrahita)
B. Klasifikasi Anak Tunadaksa
Pada dasarnya kelainan pada anak tunadaksa dapat dikelompokkan
menjadi dua bagian besar, yaitu (1) kelainan pada sistem serebral
(Cerebral System), dan (2) kelainan pada sistem otot dan rangka
(Musculus Skeletal System).
1. Kelaian pada sistem serebral (cerebral system disorders).
Penggolongan anak tunadaksa kedalam kelainan sistem serebral
(cerebral) didasarkan pada letak penyebab kelahiran yang terletak
didalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Kerusakan
pada sistem syarap pusat mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial,
karena otak dan sumsum tulang belakang sumsum merupakan pusat komputer
dari aktivitas hidup manusia. Di dalamnya terdapat pusat kesadaran,
pusat ide, pusat kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris dan lain
sebagainya. Kelompok kerusakan bagian otak ini disebut Cerebral Palsy
(CL).
Cerebral Palsy dapat diklasifikasikan menurut : (a) derajat kecacatan (b) topograpi anggota badan yang cacat dan (c) Sisiologi kelainan geraknya.
Cerebral Palsy dapat diklasifikasikan menurut : (a) derajat kecacatan (b) topograpi anggota badan yang cacat dan (c) Sisiologi kelainan geraknya.
a. Penggolongan menurut derajat kecacatan
Menurut derajat kecacatan, cerebal palsy dapat digolongkan atas : golongan ringan, golongan sedang, dan golongan berat.
1. Golongan ringan adalah : mereka yang dapat berjalan tanpa
menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong dirinya sendiri dalam
kehidupan sehari-hari. Mereka dapat hidup bersama-sama dengan anak
normal lainnya, meskipun cacat tetapi tidak mengganggu kehidupan dan
pendidikannya.
2. Golongan sedang : ialah mereka yang membutuhkan
treatment/latihan khusus untuk bicara, berjalan, dan mengurus dirinya
sendiri, golongan ini memerlukan alat-lat khusus untuk membantu
gerakannya, seperti brace untuk membantu penyangga kaki, kruk/tongkat
sebagai penopang dalam berjalan. Dengan pertolongan secara khusus,
anak-anak kelompok ini diharapkan dapat mengurus dirinya sendiri.
3. Golongan berat : anak cerebral palsy golongan ini yang
tetap membutuhkan perawatan dalam ambulasi, bicara, dan menolong dirinya
sendiri, mereka tidak dapat hidup mandiri ditengah-tengah masyarakat.
b. Penggolongan Menurut Topografi
Dilihat dari topografi yaitu banyaknya anggota tubuh yang lumpuh,
Cerebrol Palsy dapat digolongkan menjadi 6 (enam) golongan yaitu:
1. Monoplegia, hanya satu anggota gerak yang lumpuh misal kaki kiri sedang kaki kanan dan kedua tangannya normal.
2. Hemiplegia, lumpuh anggota gerak atas dan bawah pada sisi
yang sama, misalnya tangan kanan dan kaki kanan, atau tangan kiri dan
kaki kiri.
3. Paraplegia, lumpuh pada kedua tungkai kakinya.
4. Diplegia, lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kedua kaki kanan dan kiri (paraplegia)
5. Triplegia, tiga anggota gerak mengalami kelumpuhan,
misalnya tangan kanan dan kedua kakinya lumpuh, atau tangan kiri dan
kedua kakinya lumpuh.
6. Quadriplegia, anak jenis ini mengalami kelumpuhan
seluruhnya anggota geraknya. Mereka cacat pada kedua tangan dan kedua
kakinya, quadriplegia disebutnya juga tetraplegia.
c. Penggolongan menurut Fisiologi, kelainan gerak dilihat
dari segi letak kelainan di otak dan fungsi geraknya (motorik), anak
Cerebral Palsy dibedakan atas:
1) Spastik
Type Spastik ini ditandai dengan adanya gejala kekejangan atau
kekakuan pada sebagian ataupun seluruh otot. Kekakuan itu timbul sewaktu
akan digerakan sesuai dengan kehendak. Dalam keadaan ketergantungan
emosional kekakuan atau kekejangan itu akan makin bertambah, sebaliknya
dalam keadaan tenang, gejala itu menjadi berkurang. Pada umumnya, anak
CP jenis spastik ini memiliki tingkat kecerdasan yang tidak terlalu
rendah. Diantara mereka ada yang normal bahkan ada yang diatas normal.
2) Athetoid
Pada tipe ini tidak terdapat kekejangan atau kekakuan. Otot-ototnya
dapat digerakan dengan mudah. Ciri khas tipe ini terdapat pada sistem
gerakan. Hampir semua gerakan terjadi diluar kontrol. Gerakan dimaksud
adalah dengan tidak adanya kontrol dan koordinasi gerak.
3) Ataxia
Ciri khas tipe ini adalah seakan-akan kehilangan keseimbangan,
kekakuan memang tidak tampak tetapi mengalami kekakuan pada waktu
berdiri atau berjalan. Gangguan utama pada tipe ini terletak pada sistem
koordinasi dan pusat keseimbangan pada otak. Akibatnya, anak tuna tipe
ini mengalami gangguan dalam hal koordinasi ruang dan ukuran, sebagai
contoh dalam kehidupan sehari-hari : pada saat makan mulut terkatup
terlebih dahulu sebelum sendok berisi makanan sampai ujung mulut.
4) Tremor
Gejala yang tampak jelas pada tipe tremor adalah senantiasa
dijumpai adanya gerakan-gerakan kecil dan terus menerus berlangsung
sehingga tampak seperti bentuk getaran-getaran. Gerakan itu dapat
terjadi pada kepala, mata, tangkai dan bibir.
5) Rigid
Pada tipe ini didapat kekakuan otot, tetapi tidak seperti pada tipe
spastik, gerakannya tanpak tidak ada keluwesan, gerakan mekanik lebih
tampak.
6) Tipe Campuran
Pada tipe ini seorang anak menunjukan dua jenis ataupun lebih
gejala tuna CP sehingga akibatnya lebih berat bila dibandingkan dengan
anak yang hanya memiliki satu jenis/tipe kecacatan.
2. Kelainan pada Sistem Otot dan Rangka (Musculus Scelatel System)
Penggolongan anak tunadaksa kedalam kelompok system otot dan rangka
didasarkan pada letak penyebab kelainan anggota tubuh yang mengalami
kelainan yaitu: kaki, tangan dan sendi, dan tulang belakang.
Jenis-jenis kelainan sistem otak dan rangka antara lain meliputi:
a. Poliomylitis
Penderita polio adalah mengalami kelumpuhan otot sehingga otot akan
mengecil dan tenaganya melemah, peradangan akibat virus polio yang
menyerang sumsum tulang belakang pada anak usia 2 (dua) tahun sampai 6
(enam) tahun.
b. Muscle Dystrophy
Anak mengalami kelumpuhan pada fungsi otot. Kelumpuhan pada
penderita muscle dystrophy sifatnya progressif, semakin hari semakin
parah. Kondisi kelumpuhannya bersifat simetris yaitu pada kedua tangan
atau kedua kaki saja, atau kedua tangan dan kedua kakinya.
Penyebab terjadinya muscle distrophy belum diketahui secara pasti.
Tanda-tanda anak menderita muscle dystrophy baru kelihatan setelah anak berusia 3 (tiga) tahun melalui gejala yang tampak yaitu gerakan-gerakan anak lambat, semakin hari keadaannya semakin mundur jika berjalan sering terjatuh tanpa sebab terantuk benda, akhirnya anak tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya dan harus duduk di atas kursi roda.
Tanda-tanda anak menderita muscle dystrophy baru kelihatan setelah anak berusia 3 (tiga) tahun melalui gejala yang tampak yaitu gerakan-gerakan anak lambat, semakin hari keadaannya semakin mundur jika berjalan sering terjatuh tanpa sebab terantuk benda, akhirnya anak tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya dan harus duduk di atas kursi roda.
II. APA PENYEBAB TUNADAKSA
Ada beberapa macam sebab yang dapat menimbulkan kerusakan pada anak
hingga menjadi tunadaksa. Kerusakan tersebut ada yang terletak
dijaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, pada sistem musculus
skeletal. Adanya keragaman jenis tunadaksa dan masing-masing kerusakan
timbulnya berbeda-beda. Dilihat dari saat terjadinya kerusakan otak
dapat terjadi pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan sesudah lahir.
A. Sebab-sebab Sebelum Lahir (Fase Prenatal)
Pada fase, kerusakan terjadi pada saat bayi masih dalam kandungan, kerusakan disebabkan oleh:
1. Infeksi atau penyakit yang menyerang ketika ibu mengandung
sehingga menyerang otak bayi yang sedang dikandungnya, misalnya infeksi,
sypilis, rubela, dan typhus abdominolis.
2. Kelainan kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu,
tali pusat tertekan, sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf di dalam
otak.
3. Bayi dalam kandungan terkena radiasi. Radiasi langsung
mempengaruhi sistem syarat pusat sehingga struktur maupun fungsinya
terganggu.
4. Ibu yang sedang mengandung mengalami trauma (kecelakaan)
yang dapat mengakibatkan terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat.
Misalnya ibu jatuh dan perutnya membentur yang cukup keras dan secara
kebetulan mengganggu kepala bayi maka dapat merusak sistem syaraf pusat.
B. Sebab-sebab pada saat kelahiran (fase natal, peri natal)
Hal-hal yang dapat menimbulkan kerusakan otak bayi pada saat bayi dilahirkan antra lain:
1. Proses kelahiran yang terlalu lama karena tulang pinggang
ibu kecil sehingga bayi mengalami kekurangan oksigen, kekurangan oksigen
menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dalam otak bayi, akibatnya
jaringan syaraf pusat mengalami kerusakan.
2. Pemakaian alat bantu berupa tang ketika proses kelahiran
yang mengalami kesulitan sehingga dapat merusak jaringan syaraf otak
pada bayi.
3. Pemakaian anestasi yang melebihi ketentuan. Ibu yang
melahirkan karena operasi dan menggunakan anestesi yang melebihi dosis
dapat mempengaruhi sistem persyarafan otak bayi, sehingga otak mengalami
kelainan struktur ataupun fungsinya.
C. Sebab-sebab setelah Proses kelahiran (fase post natal)
Fase setelah kelahiran adalah masa mulai bayi dilahirkan sampai
masa perkembangan otak dianggap selesai, yaitu pada usia 5 tahun.
Hal-hal yang dapat menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir adalah:
1. Kecelakaan/trauma kepala, amputasi.
2. Infeksi penyakit yang menyerang otak.
3. Anoxia/hipoxia.
Hal-hal yang dapat menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir adalah:
1. Kecelakaan/trauma kepala, amputasi.
2. Infeksi penyakit yang menyerang otak.
3. Anoxia/hipoxia.
III. KARAKTERISTIK ANAK TUNADAKSA.
Derajat keturunan akan mempengaruhi kemanpuan penyesuaian diri
dengan lingkungan, kecenderungan untuk bersifat pasif. Demikianlah pada
halnya dengan tingkah laku anak tunadaksa sangat dipengaruhi oleh jenis
dan derajat keturunannya. Jenis kecacatan itu akan dapat menimbulkan
perubahan tingkah laku sebagai kompensasi akan kekurangan atau
kecacatan.
Ditinjau dari aspek psikologis, anak tunadaksa cenderung merasa
malu, rendah diri dan sensitif, memisahkan diri dari llingkungan.
Disamping karakteristik tersebut terdapat beberapa problema penyerta
bagi anak tunadaksa antara lain:
· Kelainan perkembangan/intelektual
· Ganguan pendengaran.
· Gangguan penglihatan.
· Gangguan taktik dan kinestetik.
· Gangguan pesepsi
· Gangguan emosi.
IV. BAGAIMANA IMPLIKASI PENDIDIKAN ANAK TUNADAKSA
Dalam dunia Pendidikan pada prinsipnya guru mempunyai peranan
ganda. Disatu pihak, guru berfungsi sebagai pengajar, pendidik, dan
pelatih bagi anak didik. Dipihak lain, guru berfungsi sebagai pengganti
orang tua murid di sekolah. Dengan demikian secara tidak langsung mereka
dituntut untuk menjadi manusia serba bisa dan serba biasa, lebih-lebih
bila dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan pada saat ini, yaitu bahwa
orang tua dan masyarakat pada umumnya masih mempunyai anggapan yang
keliru. Mereka berpendapat bahwa berhasil atau tidaknya pendidikan
anak-anak mereka diserahkan sepenuhnya pada pihak sekolah, termasuk
didalamnya para guru, tanpa ikut campur mereka.
Keadaan semacam ini lebih komplit lagi dalam dunia pendidikan luar
biasa karena subjek didik yang dihadapi memiliki
keterbatasan-keterbatasan tertentu, baik kemanpuan fisik, mental, emosi
maupun dalam usaha penyesuaian diri dengan pihak luar atau lingkunagan
sekitar. Oleh karena itu, tugas guru semakin berat yang dituntut
keahlian serta keterampilan tertentu, baik dalam bidang metedologi yang
bersifat khusus, maupun dalam bidang pelayanan terapi.
Pelayanan terapi yang diperlukan anak tunadaksa antara lain:
· Latihan wicara (speech Therapy)
· Fisioterapi
· Occupational therapy
· Hydro Therapy
Anak tunadaksa pada dasarnya sama dengan anak-anak normal lainnya.
Kesamaan tersebut dapat dilihat dari fisik dan psiko-sosial. Dari segi
fisik, mereka dapat makan, minum, dan kebutuhan yang tidak dapat ditunda
dalam beberapa menit yaitu bernafas. Sedangkan dari aspek psiko-sosial,
mereka memerlukan rasa aman dalam bermobilisasi, perlu afiliasi, butuh
kasih sayang dari orang lain, diterima dan perlu pendidikan. Adapun
unsur kesamaan kebutuhan antara anak tunadaksa dan anak normal, karena
pada dasarnya mereka memiliki fitrah yang sama sebagai manusia.
Pandangan yang melihat anak tunadaksa dan anak normal dari sudut kesamaan akan lebih banyak memberikan layanan optimal untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, ketimbang pandangan yang semata-mata mengekspos segi kekurangannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang sering melihat orang lain tentang kelemahannya, sehingga yang muncul adalah kritik atau cemoohan. Kiranya demikian, andaikata kita melihat anak tunadaksa semata-mata dari kecacatannya. Oleh karena itu, pandangan yang mendahulukan sifat positif pada anak tunadaksa perlu dimasyarakatkan supaya kesempatan perkembangan dirinya yang baik semakin lebar. Pendidikan yang juga merupakan kebutuhan anak tunadaksa perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan mengacu pada kemampuan masing-masing anak tunasaksa. Melalui pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan. Anak-anak tunadaksa diharapkan memiliki masa depan yang tidak selalu bergantung pada orang tua dan masyarakat.
Pandangan yang melihat anak tunadaksa dan anak normal dari sudut kesamaan akan lebih banyak memberikan layanan optimal untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, ketimbang pandangan yang semata-mata mengekspos segi kekurangannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang sering melihat orang lain tentang kelemahannya, sehingga yang muncul adalah kritik atau cemoohan. Kiranya demikian, andaikata kita melihat anak tunadaksa semata-mata dari kecacatannya. Oleh karena itu, pandangan yang mendahulukan sifat positif pada anak tunadaksa perlu dimasyarakatkan supaya kesempatan perkembangan dirinya yang baik semakin lebar. Pendidikan yang juga merupakan kebutuhan anak tunadaksa perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan mengacu pada kemampuan masing-masing anak tunasaksa. Melalui pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan. Anak-anak tunadaksa diharapkan memiliki masa depan yang tidak selalu bergantung pada orang tua dan masyarakat.
V. BAGAIMANA MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN
Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan bagi anak tidak selalu
harus berlangsung disuatu lembaga pendidikan khusus, sebab sebagian dari
mereka (anak tunadaksa) pendidikannya dapat berlangsung di sekolah dan
kelas reguler/sekolah umum. Hal ini disebabkan oleh faktor kemampuan dan
ketidakmampuan anak tunadaksa dan lingkungannya. Evelyn Deno, (1970)
dan Ronald L Taylor, (1984) menjelaskan system layanan pendidikan bagi
anak luar biasa (termasuk anak tunadaksa) yang bervariasi, mulai dari
sistem pendidikan di kelas dan sekolah reguler/umum sampai pendidikan
yang diberikan disuatu rumah sakit, bahkan sampai pada bentuk layanan
yang tidak memiliki makna edukasi sama sekali, yakni layanan yang
diberikan kepada anak-anak tunadaksa dalam perawatan medis dan bantuan
pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Dari kenyataan di lapangan bahwa anak tunadaksa memiliki problema
penyerta. Problema penyerta ini berbeda-beda antara seorang anak
tunadaksa yang satu dengan anak tunadaksa yang lainnya, tergantung dari
pada penyebab ketunaannya, berat ringannya ketunaannya. Atas dasar
kondisi anak tunadaksa tersebut, maka model pelayanan pendidikannya
dibagi pada “Sekolah Khusus” dan “Sekolah Terpadu/Inklusi”.
A. Sekolah Khusus
Pelayanan pendidikan bagi anak tunadaksa di sekolah khusus ini
diperuntukkan bagi anak yang mempunyai problema lebih berat, baik
problema penyerta intelektualnya seperti retardasi mental maupun
problema penyerta kesulitan lokomosi (gerakan) dan emosinya.
Di sekolah khusus ini pelayanan pendidikannya dibagi menjadi dua
unit, yaitu unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa ringan, dan unit
sekolah khusus bagi anak tunadaksa sedang.
1. Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Ringan (SLB-D)
Pelayanan pendidikan diunit tunadaksa ringan atau SLB-D diperlukan
bagi anak tunadaksa yang tidak mempunyai problema penyerta retardasi
mental, yaitu anak tunadaksa yang mempunyai intelektual rata-rata atau
bahkan di atas rata-rata intelektual anak normal. Namun anak kelompok
ini belum ditempatkan di sekolah terpadu/sekolah umum karena anak masih
memerlukan terapi-terapi, seperti fisio terapi, speech therapy,
occuppational therapy dan atau terapi yang lain. Dapat juga terjadi anak
tunadaksa tidak ditempatkan di sekolah reguler karena derajad
kecacatannya terlalu berat.
2. Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Sedang (SLB-D1)
Pelayanan pendidikan diunit ini, diperuntukkan bagi anak tunadaksa
yang mempunyai problema seperti, emosi, persepsi atau campuran dari
ketiganya disertai problema penyerta retardasi mental. Kelompok anak
tunadaksa sedang ini mempunyai intelektual di bawah rata-rata anak
normal.
B. Sekolah Terpadu/Inklusi
Bagi anak tunadaksa dengan problema penyerta relatif ringan, dan
tidak disertai dengan problema penyerta retardasi mental akan sangat
baik jika sedini mungkin pelayanan pendidikannya disatukan dengan
anak-anak normal lainnya di sekolah reguler/sekolah umum. Karena anak
tunadaksa tersebut sudah dapat mengatasi problema fisik maupun
intelektual serta emosionalnya.
Namun walaupun kondisi penyerta anak tunadaksa cukup ringan,
sekolah reguler yang ditunjuk untuk melayani pendidikannya perlu
persiapan yang matang terlebih dahulu, baik persiapan sarana maupun
prasarananya. Seperti persiapan aksesibilitas misalnya meminimalkan
trap-trap atau tangga-tangga. Jika memungkinkan dibuatkan ramp-ramp
untuk akses kursi roda, atau bagi anak yang khusus menggunakan alat
bantu jalan lainnya seperti kruk atau wolker. Bentuk meja atau kursi
belajar disesuaikan dengan kondisi anak. Hal demikian memerlukan
persiapan yang lebih terencana, sehingga tidak menimbulkan problema
tambahan bagi anak tunadaksa. Juga bentuk toilet, kloset harus dapat
dipergunakan bagi anak yang menggunakan kursi roda. Disamping itu sistem
guru kunjung dapat membantu memecahkan permasalahan yang mungkin timbul
pada anak tunadaksa dikemudian hari.
VI. KETENAGAAN KHUSUS, KURIKULUM DAN ADMINISTRASI
A. Ketenagaan
1. Tenaga Kependidikan
Tenaga kependidikan untuk Pendidikan Luar Biasa bagian D
(tunadaksa) adalah guru yang secara khusus mempersiapkan diri untuk
mengajar anak tunadaksa yang mempunyai berbagai masalah dari tingkat
Taman Kanak-kanak sampai dengan Tingkat Menengah. Disamping itu juga
dapat merencanakan dan melaksanakan tugas pendidikan bagi anak yang
sedang dalam perawatan karena operasi.
a. Tenaga Guru yang Diperlukan adalah :
1. Guru Kelas atau Guru Bidang Studi
2. Guru Keterampilan
3. Guru Agama
4. Guru Olahraga
b. Persyaratan Tenaga Guru/Pendidik adalah:
1. Tamatan minimal SGPLB, sarjana muda/DIII, sarjana pendidikan luar biasa dari IKIP/Universitas.
2. Untuk guru agama dari PGA, DIII, S1 IAIN atau sederajat.
3. Untuk guru olahraga dari DIII, S1 IKIP atau Universitas.
4. Untuk guru keterampilan DIII, S1 IKIP/Universitas
5. Untuk guru bidang studi minimal DIII, S1 IKIP/Universitas dari jurusan yang sesuai.
2. Tenaga Ahli
Tenaga Ahli yang diperlukan untuk:
a. Remedial Teaching
Guru yang mendapat tugas khusus untuk remedial atau bertugas memberi bimbingan dan penyuluhan.
b. Team Rehabilitasi
- Dokter umum
- Dokter anak
- Dokter anak pediatry
- Dokter orthopedi
- Psikolog
- Orthopedagogik
- Speech therapist
- Occupational therapist
- Pekerja sosial
- Dokter anak
- Dokter anak pediatry
- Dokter orthopedi
- Psikolog
- Orthopedagogik
- Speech therapist
- Occupational therapist
- Pekerja sosial
3. Tenaga Administrasi
Tenaga administrasi untuk pendidikan luar biasa bagian D (tunadaksa) adalah :
a. Kepala Sekolah
b. Wakil Kepala Sekolah
c. Bendahara
d. Tenaga Usaha, yang dapat melaksanakan : agendaris, inventaris dan pengetikan
e. Pesuruh/pembantu sekolah
a. Kepala Sekolah
b. Wakil Kepala Sekolah
c. Bendahara
d. Tenaga Usaha, yang dapat melaksanakan : agendaris, inventaris dan pengetikan
e. Pesuruh/pembantu sekolah
4. Penjaga Sekolah/SATPAM
Petugas yang diberi wewenang untuk menjaga keamanan/memelihara ketertiban sekolah.
B. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum PLB tahun 1994, yang terdiri dari :
1. Landasan Program
2. Garis-garis Program Pengajaran
3. Pedoman Pelaksanaan
1. Landasan Program
2. Garis-garis Program Pengajaran
3. Pedoman Pelaksanaan
C. Administrasi
Administrasi yang digunakan adalah administrasi yang sesuai dengan pedoman administrasi yang telah dibukukan antara lain :
1. Administrasi Program Pengajaran
2. Administrasi Kepegawaian
3. Administrasi Keuangan
4. Administrasi Perlengkapan dan Barang.
1. Administrasi Program Pengajaran
2. Administrasi Kepegawaian
3. Administrasi Keuangan
4. Administrasi Perlengkapan dan Barang.



0 komentar:
Posting Komentar