Pages

Subscribe:

Selasa, 29 April 2014

DAMPAK DAN PERMASALAHAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS



 1.  Dampak Kelainan terhadap Anak.
ABK adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang secara signifikan berbeda dengan anak normal, sehingga dalam kehidupan dan kegaiatnnya memerlukan perlakuakn khusus. Hal ini sudah barang Gangguan dan hambatan yang dialami Anak Berkebutuhan Khusus secara garis besar menimbulkan dua macam dampak/ aspek/akibat yang bersifat secara langsung (direct effecis ) dan tidak langsung (nondirect effecis ).
1.1.      Dampak langsung.                  1.
Banyak hal yang dapat ditengarai sebagai akibat langsung dari kelainan yang ada pada diri Anak Berkebutuhan Khusus, misalnya seorang anak yang memilki hambatan penglihatan sehingga ia buta, maka ia tidak dapat melihat, seorang yang rusak organ pendengarannya, maka ia tidak dapat mendengar, dan seorang yang memilki hambatan dalam kecerdasannya maka ia akan lambat/tidak dapat berfikir.
·         Gangguan mobilitas atau ambulasi.
Gangguan ini dapat diakibatkan oleh adanya kelumpuhan, kebutaan atau kekakuan gerak anggota tubuh terutama anggota gerak bawah diakibatkan oleh adanya gangguan keseimbangan anggota tubuh.
·         Gangguan Aktifitas Bina Diri / Aktifity Daily Living ( ADL ).
Gangguan ini dalam kegiatan sehari-hari ,oleh karena adanya gangguan koordinasi motorik kasar ataupun halus atau visuomotorik , penglihatan anak sehingga mengakibatkan adanya gangguan kegiatan memegang, menggenggam, meraih benda, kesulitan dalam mengarahkan gerakan tangan, gerakan kaki pada obyek tertentu yang hubungannya dengan aktivitas : makan, penggunaan toilet, berhias, dan sebagainya.
·         Gangguan dalam komunikasi
Akibat dari hambatan penglihatan, pendengaran, kecerdasan, emosi  social, dan tingkah laku, maka dampak yang ada pada Anak Berkebutuhan Khusus adanya gangguan komunikasi ( terutama dalam komunikasi lesan).
·         Gangguan fungsi mental
ABK yang memiliki hambatan penglihatan, pendengaran, kecerdasan, fungsi gerak, emosi maupun sosialnya akan berdampak dalam gangguan fungsi mentalnya.Misalnya pada gangguan fungsi mental pada anak yang memiliki hambatan penglihatan akan berdampak pada emosinya, kekurang percayaan diri(self esteem), minder atau malah terkadang tidak terkontrol emosinya.Gangguan fungsi mental pada anak Cerebral Palsy (CP) dengan kadar kecerdasan yang rendah, maupun pada anak CP yang memiliki kadar kecerdasan normal atau supenormal dapat terganggu akibat dari hambatan fisik yang berhubungan dengan fungsi gerak dan adanya perlakuan yang keliru dari lingkungan.Misalnya anak CP yang sebenarnya cerdas, karena keterbatasan gerak mengakibatkan tugas-tugas yang diberikan kepadanya tidak dapat diselesaikan dengan benar, akibatnya dianggap anak tidak mampu mengerjakannya. Akibat yang lebih jauh ia peroleh perlakuan yang kurang mendukung pengembangan potensi anak secara utuh.
·         Gangguan Sensoris
Gangguan sensoris pada Anak Berkebutuhan Khusus akan menimbulkan dampak pada sensoris pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan gangguan orientasi ruang, bentuk, warna, jarak, dan lain-lain.
1.2.      Dampak tidak langsung.
Dampak tidak langsung ( dampak sekunder) disini adalah reaksi penyandang kelainan/hambatan dan gangguan tersebut. Seorang anak yang mengalami hambatan dalam geraknya, misalnya anak CP mengalami kelumpuhan pada satu tangannya pada usia menginjak dewasa, sudah saatnya ia memilih pasangan hidupnya ( pasangan lawan jenisnya) sebagai tempat berbagi suka dan duka. Namun dikarenakan kondisi kelainannya, ia sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan, minder dan tidak berani menjalin keakraban dengan teman-temannya.Sehingga dampak yang timbul adanya penyesalan diri, penyesalan terhadap orang tua dan orang lain disekitarnya. Bentuk reaksi atas kondisi kelainannya/hambatannya akan berbentu pada kebencian terhadap dunia luar, sehingga menimbulkan sikap negatip ia rendah diri, isolasidiri,merasa tidak berdaya dan tidak berguna.
Konsep diri pada dasarnya diperoleh melalui kontak sosial dan pengalaman yang berhubungan dengan orang lain. Dampak tidak langsung pada Anak Berkebutuhan Khusus dapat dideskripsikan secara singkat sebagai berikut:
·         Bahwa dampak tidak langsung dari kelainan dan hambatan yang dialami anak, sangat tergantung bagaimana anak memberikan reaksi atas kondisi kelainannya.
·         Dampak tidak langsung dari kelainan ini tidak dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk sejak usia kanak-kanak, dan dipengaruhi oleh perlakuan yang diterima dari lingkungan terutama keluarga. Sehingga lingkungan sosial, terutama orang yang paling berarti dalam hidupnya, ikut menentukan berat ringannya dampak tidak langsung Anak Berkebutuhan Khusus.
Manifestasi dampak tidak langsung antara lain adalah:
·         Harga diri anak, anak menjadi tidak percaya diri,  mengkritik diri sendiri, atau malah tidak mau menerima kritik, menolak dan menghindari untuk meningkatkan kemampuan diri, menarik diri dari realitas, tidak pemberani, ragu-ragu , dan lain-lain.
·         Perilaku yang berhubungan dengan identitas diri yang tidak jelas, seperti misalnya kecintaan pada diri sendiri yang patologis, kecemasan yang tinggi, perasaan yang kosong, hubungan interpersonal yang kacau, dan sebagainya.
·         Perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi, tampak pada sikap pasif dan tidak merespon lingkungan secara baik, komunikasi yang kurang selaras, kurang spontan, kurang ada inisiatif, ragu dalam mengambil keputusan, menarik iri dari hubungan sosial, dan sebagainya.
2.       Dampak Kelainan Bagi Keluarga   
Berbagai masalah keluarga, mungkin akan muncul sebagai akibat kehadiran anak yang cacat, apalagi yang tidak dikehendaki kelahirannya. Berbagai kasus yang ada dalam masyarakat modern. Ada kemungkinan suatu peristiwa, seorang anak dilahirkan dengan kondisi kepalanya dengan ukuran kecil serta matanya membesar, anak itu dilahirkan di dalam lingkungan keluarga yang miskin sehingga ibu saat mengandung kekurangan gizi. Ketika menghadapi anak dengan kondisi sepert itu mereka putus asa, bingung, malu serta merasa tidak punya jalan, mereka sudah membayangkan untuk membesarkan anaknya, anak yang lahir dalam kondisi demikian membutuhkan biaya yang tinggi agar anaknya bisa diberikan pengobatan atau gizi yang lebih baik serta perawatan dokter agar anaknya menjadi tumbuh secara normal. Jika tidak mendapatkan perawatan maka anak tersebut akan menjadi terhambat baik dalam perkembangan otaknya, fisiknya , emosinya dan sosialnya. Kemudian mungkin timbul niat jahat untuk menghilangkan anak dengan berbagai cara.
 
Menurut Kirk & Gallahan (1993) dalam Salim ( 1996), bahwa keberadaan penyandang kelainan di tengah-tengah keluarga, akan dapat menimbulkan dua macam krisis yaitu.
·      Krisis yang pertama, orangtua menghadapi anaknya sebagai kondisi kematian secara simbolis. Lebih jauh Kirk & Gallahan menjelaskan bahwas seorang ibu yang menantikan kelahiran bayi yang didambakan ternyata setelah lahir mengalami kelainan, maka kemudian hancurlah semua harapan dan impiannya. Kasus yang menimpa seorang ibu tersebut karena saat hamil tidak menghendaki anaknya lahir sehingga ibu berusaha untuk menggugurkan kandungannya dengan minum obat-obatan atau minum minuman keras.
·      Krisis yang kedua, adalah masalah yang berkaitan dengan kesulitan orangtua, dalam merawat, membimbing dan mendidik anak yang berkelainan. Orangtua tidak tahu bagaimana harus merawat, mengasuh, mendidik anaknya yang berkelainan menjadi anak yang berpendidikan, memiliki kehidupan yang layak, secara ekonomi, vocasional maupun sosial. Sehingga dalam berbagai tahapan kehadiran anak menjadi beban semua anggota keluarga.
Berbagai kasus dapat digambarkan sebagai ilustrasi. Seorang ibu yang memiliki anak Autisme. Kondisi anak Autisme ini memiliki tingkah laku yang aneh, anak suka dengan benda-benda tertentu. Jika anak tersebut dibawa dilingkungan masyarakat yang belum paham adanya kondisi anak baik segi psikis, sosial, dan model  komunikasinya,andangannya yang tidak terfokus, dan lain-lain,maka orangtuanya akan malu jika anaknya timbul keanehan-keanehan di hadapan orang lain, mungkin juga akan menjadi bahan pembicaraan yang aneh.  Di samping kekhususan dalam emosi dan komunikasinya, anak Autisme juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehinga  mau tidak mau ekonomi keluarga juga terpengaruh. Anak Autisme akan berhasil dalam pendidikan bila mendapat penanganan yang tepat, anak demikian membutuhkan therapy tingkah laku, therapy accupashy, therapy sosial, therapy medis dan lain-lain, yang semuanya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Dari kasus tersebut dapat pula digambarkan bahwa orangtua merasa terpukul atau schock dengan kondisi anaknya, orangtua merasa ragu-ragu untuk merawat anaknya, perasaan benci pada diri sendiri dan merasa berdosa. Banyak orangtua yang menghindar dari kenyataan sehingga anaknya di sembunyikan dalam kamar yang tidak terlihat oleh orang lain, atau menyerahkan ke panti-panti. Tetapi ada pula kelompok orang tua yang dengan penuh kasih sayang mencarikan pengobatan, berusaha maksimal untuk memelihara dengan jalan mencari informasi-informasi pada para profesional. Ini adalah menunjukkan bahwa penerimaan orangtua terhadap kehadiran anak berkelainan bervariasi. Pada masa-masa yang akan datang tentu saja banyak orang tua yang telah menyadari bahwa anak berkebutuhan khusus mendapatkan  kesempatan untuk bersekolah , orangtua mengharapkan pada anaknya untuk berkembang lebih baik dengan menyekolahkan anaknya sehingga dapat pergi kesekolah yang terdekat dari tempat tinggalnya.

  3.  Dampak Kelainan Bagi Masyarakat.
Terkait dengan dampak yang muncul dalam masyarakat, cobalah Anda cermati kasus berikut. Kasus yang menimpa keluarga Handoyo! Mereka memiliki anak cacat ganda dengan kondisi anak tidak dapat melihat dan juga tidak mendengar serta kondisi kecerdasannya yang rendah. Untuk berjalanpun anak tersebut harus digendong, makan membutuhkan bantuan serta kesulitan dalam mengenal benda-benda dilingkungannya, demikian juga ketika pergi ke toilet selalu membutuhkan peralatan serta bantuan medis yang terus menerus. Anak cacat ganda sangat tergantung pada orangtuanya sehingga membutuhkan pendidikan yang khusus serta perawatan yang intensif. Dapat Anda bayangkan betapa merepotkan, tetapi apapun yang terjadi anak akan terus tumbuh dan berkembang, dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki. Orang tua yang penuh syukur akan terus berusaha mengembangkan anaknya secara optimal agar dapat hidup mandiri, paling tidak untuk dapat mengurus dirinya sendiri.
Seringkali muncul pandangan masyarakat yang miring terhadap Anak Berkebutuhan Khusus, bahwa Anak Berkebutuhan Khusus berbeda dari yang lainnya, karena tidak berdaya, selalu ditolong, dan pada hakekatnya ABK selalu  menjadi beban orang lain.Reaksi masyarakat terhadap ABK juga sangat bervariatif ada yang bersikap positif, dengan membantu meringankan beban orang tau, mencarikan berbagai solusi, namun pada umumnya lebih banyak yang cenderung bersikap pasif atau bahkan bernada negatif.
Pandangan masyarakat yang demikian sudah tentu tidak semuanya benar, Banyak Anak Berkebutuhan Khusus memiliki kemampuan / potensi yang menonjol. Dari waktu ke waktu, pandangan tentang Anak Berkebutuhan Khusus terjadi perubahan, dimulai dari sikap/pandangan yang melihat anak cacat/ anak berkebutuhan khusus berbeda sama sekali dengan anak normal pada umumnya.Dengan fenomena baru bahwa Anak Berkebutuhan Khusus memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak pada umumnya.
Dengan adanya perkembangan pendidikan yang mengarah kepada pemberian kesempatan pada anak untuk mendapatkan penghargaan yang sama dan adanya pendidikan Inklusif, maka kesempatan terbuka bagi mereka untuk diterima didalam masyarakat secara Inklusif.

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TUNA DAKSA

MAKALAH
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TUNA DAKSA
Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah Anak Berkebutuhan Khusus
Pengampu: Murfiah Dewi Wulandari
logo-universitas-muhammadiyah-surakarta



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014


BAB I
PENDAHULUAN
  1. A.    Latar Belakang
                Persepsi masyarakat awam tentang anak berkelainan fungsi anggota tubuh (anak tunadaksa) sebagai salah satu jenis anak berkelainan dalam konteks Pendidikan Luar Biasa (Pendidikan Khusus) masih dipermasalahkan. Munculnya permasalahan tersebutterkait dengan asumsi bahwa anak tunadaksa (kehialangan salah satu atau lebih fungsianggota tubuh) pada kenyataannya banyak yang tidak mengalami kesulitan untuk menititugas perkembangannya, tanpa harus masuk sekolah khusus untuk anak tunadaksa(khususnya tunadaksa ringan).
            Secara umum dikenal dua macam anak tunadaksa. Pertama, anak tuna daksa yang disebabkan karena penyakit polio, yang mengakibatkan terganggunya salah satu fungsianggota badan. Anak tunadaksa kelompok ini sering disebut orthopedically handicapped,tidak mengalami hambatan perkembangan kecerdasannya. Oleh karena itu mereka dapat belajar mengikuti program sekolah biasa.
Kedua, anak tunadaksa yang disebabkan oleh gangguan neurologis. Anak tuna daksa kelompok ini mengalami gangguan gerak dan kebanyakan dari mereka mengalamigannguan kecerdasan dan sering disebut neurologically handicapped atau secara khususmereka disebut penyandang cerebral palsy. Anak tuna daksa kelompok inimembutuhkan layanan pendidikan luar biasa.Anak yang mengalami gangguan gerakan pada taraf sedang dan berat,umumnya dimasukkan ke sekolah luar biasa (SLB), sedangkan anak yang mengalami gangguan gerakan dalam taraf ringan banyak ditemukan sekolah ± sekolah umum. Namun jika mereka tidak mendapatkan pelayanan khusus dapatmenyebabkan terjadinya kesulitan belajar yang serius.
  1. B.     Rumusan Masalah
  2. Apa pengertian dari anak Tuna Daksa?
  3. Bagaimana Karakteristik dan permasalahan yang dihadapi dari anak Tuna Daksa?
  4. Bagaimana Klasifikasi dari anak Tuna Daksa?
  5. Apa penyebab anak Tuna Daksa?
  6. Bagaimana perkembangan kognitif dari anak Tuna Daksa?
  7. Bagaimana perkembangan sosial, emosi, dan kepribadian anak Tuna Daksa?

  1. C.    Tujuan
  2. Mengetahui pengertian dari anak Tuna Daksa.
  3. Menjelaskan karakteristik dan permasalahan yang dihadapi anak Tuna Daksa.
  4. Menguraikan klasifikasi anak Tuna Daksa.
  5. Mengetahui penyebab anak Tuna Daksa.
  6. Menjelaskan perkembangan kognitif anak Tuna Daksa.
  7. Menjelaskan perkembangan sosial, emosi, dan kepribadian anak Tuna Daksa.



BAB II
PEMBAHASAN
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TUNA DAKSA
  1. A.    Pengertian Anak Tuna Daksa
Anak tuna daksa adalah anak yang mempunyai kelainan ortopedik atau salah satu bentuk berupa gangguan dari fungsi normal pada tulang, otot, dan persendian yang mungkin karena bawaan sejak lahir, penyakit atau kecelakaan, sehingga apabila mau bergerak atau berjalan memerlukan alat bantu.
Didalam Wikipedia, pengertian Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
  1. B.     Karakteristik dan Permasalahan yang dihadapi Anak Tuna Daksa
Banyak jenis dan variasi anak tuna daksa, sehingga untuk mengidentifikasi karakteristiknya diperlukan pembahasan yang sangat luas. Berdasarkan berbagai sumber ditemukan beberapa karakteristik umum bagi anak tuna daksa, diantara lain sebagai berikut :
  1. Karakteristik Kepribadian
  2. Mereka yang cacat sejak lahir tidak pernah memperoleh pengalaman, yang demikian ini tidak menimbulkan frustasi.
  3. Tidak ada hubungan antara pribadi yang tertutup dengan lamanya kelainan fisik yang diderita.
  4. Adanya kelainan fisik tidak memperngaruhi kepribadian atau ketidak mampuan individu dalam menyesuaikan diri.
  5. Anak cerebal-pakcy dan polio cenderung memiliki rasa takut daripada yang mengalami sakit jantung.
  6. Karakteristik Emosi-sosial
  7. Kegiatan-kegiatan jasmani yang tidak dapat dijangkau oleh anak tuna daksa dapat berakibat timbulnya problem emosi, perasaan dan dapat menimbulkanfrustasi yang berat.
  8. Keadaan tersebut dapat berakibat fatal, yaitu mereka menyingkirkan diri dari keramaian.
  9. Anak tuna daksa cenderung acuh bila dikumpulkan bersama anak-anak normal dalam suatu permainan.
  10. Akibat kecacatanya mereka dapat mengalami keterbatasan dalam berkomunikasi dengan lingkunganya.
  11. Karakteristik Intelegensi
  12. Tidak ada hubungan antara tingkat kecerdasan dan kecacatan, tapi  ada beberapa kecenderungan adanya penurunan sedemikian rupa kecerdasan individu bila kecacatanya meningkat.
  13. Hasil penelitian ternyata IQ anak tuna daksa rata-rata normal.
  14. Karakteristik Fisik
  15. Selain memiliki kecacatan tubuh, ada kecenderungan mengalami gangguan-gangguan lain, misalnya: sakit gigi, berkurangnya daya pendengaran, penglihatan, gangguan bicara dan sebagainya.
  16. Kemampuan motorik terbatas dan ini dapat dikembangkan sampai pada batas-batas tertentu.
Adanya berbagai karakteristik tersebut bukan berarti bahwa setiap anak tuna daksa memiliki semua karakteristik yang diungkapkan, namun bisa saja terjadi salah satunya tidak dimiliki.
Dari karakteristik tersebut menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif. Dari dampak negatif timbul masalah-masalah yang muncul yang berkaitan dengan posisi siswa disekolah. Permasalahan tersebut dapat digolongkan menjadi beberapa masalah, yaitu:
  1. Masalah kesulitan belajar
Terjadinya kelainan pada otak ,sehingga fungsi fikirnya terganggu persepsi. Apalagi bagi anak tuna daksa yang disertai dengan cacat-cacat lainya dapat menimbulkan komplikasi yang secara otomatis dapat berpengaruh terhadap kemampuan menyerap materi yang diberikan.
  1. Masalah sosialisasi
Anak tuna daksa mengalami berbagai kesulitan dan hambatan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini dapat terjadi karena kelainan jasmani, sehingga mereka tidak diterima oleh teman-temannya, diisilasi, dihina, dibenci, dan bahkan tidak disukai sama sekali kehadiranya dan sebagainya.
  1. Masalah kepribadian
Masalah kepribadian dapat berwujud kurangnya ketahanan diri bahkan tidak adanya kepercayaan diri, mudah tersinggung dan sebagainya.
  1. Masalah ketrampilan dan pekerjaan
Anak tuna daksa memiliki kemampuan fisik yang terbatas, namun di lain pihak bagi mereka yang memiliki kecerdasan yang normal ataupun yang kurang perlu adanya pembinaan diri sehingga hidupnya tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada orang lain. Karena itu dengan modal kemampuan yang dimilikinya perlu diberikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya untuk dapat mengembangkan lewat latihan ketrampilan dan kerja yang sesuai dengan potensinya, sehingga setelah selesai masa pendidikan mereka dapat menghidupi dirinya, tidak selalu mengharapkan pertolongan oranglain. Di lain pihak dianggap perlu sekali adanya kerja sama yang baik dengan perusahaan baik negeri maupun swasta untuk dapat menampung mereka.
  1. Masalah latihan gerak
Kondisi anak tuna daksa yang sebagian besar mengalami gangguan dalam gerak. Agar kelainanya itu tidak semakin parah dan dengan harapan supaya kondisi fungsional dapat pulih ke posisi semula, dianggap perlu adanya latihan yang sistematis dan berlanjut.misalnya terapi-fisik (fisio-therapy), terapi-tari (dance-therapy), terapi-bermain (play-therapy), dan terapi-okupasional (occupotional-therapy).
  1. C.    Klasifikasi  Anak Tuna Daksa
Menurut Direktorat Pendidikan Luar Biasa, pada dasarnya kelainan pada anak tunadaksa dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (1) kelainan pada sistem serebral ( Cerebral System), dan (2) kelainan pada sistem otot dan rangka ( Musculus Skeletal System)
1. Kelainan pada sistem serebral ( cerebral system disorders)
Penggolongan anak tuna daksa ke dalam kelainan sistem serebral ( cerebral) didasarkan pada letak penyebab kelahiran yang terletak di dalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Kerusakan pada sistem syaraf pusat mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial karena otak dan sumsum tulang belakang merupakan pusat dari aktivitas hidup manusia. Di dalamnya terdapat pusat kesadaran, pusat ide, pusat kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris dan lain sebagainya. Kelompok kerusakan bagian otak ini disebut Cerebral Palsy (CP). Cerebral Palsy dapat diklasifikasikan menurut:
a. Penggolongan menurut derajat kecacatan
            Menurut derajat kecacatan, cerebal palsy dapat digolongkan atas: golongan ringan, golongan sedang, dan golongan berat.
• Golongan ringan adalah mereka yang dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat hidup bersama-sama (dalam hal ini mengikuti aktivitas sehari-hari) anak normal lainnya. Kelainan yang dimiliki oleh kelompok ini tidak mengganggu kehidupan dan pendidikannya.
• Golongan sedang adalah mereka yang membutuhkan treatment atau latihan khusus untuk bicara, berjalan, dan mengurus dirinya sendiri.  Golongan ini memerlukan alat-alat khusus untuk membantu gerakannya, seperti brace untuk membantu penyangga kaki, kruk atau tongkat sebagai penopang dalam berjalan. Dengan pertolongan secara khusus, anak-anak kelompok ini diharapkan dapat mengurus dirinya sendiri.
• Golongan berat adalah mereka yang memiliki cerebral palsy. Golongan ini yang tetap membutuhkan perawatan dalam ambulansi, bicara, dan menolong dirinya sendiri. Mereka tidak dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat.
 b. Penggolongan menurut topografi
Dilihat dari topografi yaitu banyaknya anggota tubuh yang lumpuh, Cerebral Palsy dapat digolongkan menjadi enam golongan, yaitu:
• Monoplegia
Hanya satu anggota gerak yang lumpuh, misalnya kaki kiri.
Sedangkan kaki kanan dan kedua tangannya normal.
• Hemiplegia
Lumpuh anggota gerak atas dan bawah pada sisi yang sama,
misalnya tangan kanan dan kaki kanan, atau tangan kiri dan kaki kiri.
• Paraplegia
Lumpuh pada kedua tungkai kakinya.
• Diplegia
Lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kedua kaki kanan dan kiri
(paraplegia).
• Triplegia
Tiga anggota gerak mengalami kelumpuhan, misalnya tangan kanan dan
kedua kakinya lumpuh, atau tangan kiri dan kedua kakinya lumpuh.
• Quadriplegia
Anak jenis ini mengalami kelumpuhan seluruhnya anggota
geraknya. Mereka cacat pada kedua tangan dan kedua kakinya,
quadriplegia disebutnya juga tetraplegia.
c. Penggolongan menurut fisiologi
            Dilihat dari fisiologi, yaitu segi gerak, letak kelainan terdapat di
otak dan fungsi geraknya (motorik), maka anak Cerebral Palsy dibedakan atas:
• Spastik
Tipe spastik ini ditandai dengan adanya gejala kekejangan atau kekakuan pada sebagian ataupun seluruh otot. Kekakuan itu timbul ketika akan bergerak sesuai dengan kehendak. Dalam keadaan ketergantungan emosional, kekakuan atau kekejangan itu akan makin bertambah, sebaliknya dalam keadaan tenang, gejala itu menjadi berkurang. Pada umumnya, anak CP jenis spastik ini memiliki tingkat kecerdasan yang tidak terlalu rendah. Di antara mereka ada yang normal bahkan ada yang di atas normal.
• Athetoid
Pada tipe ini tidak terdapat kekejangan atau kekakuan. Otot-ototnya dapat digerakkan dengan mudah. Ciri khas tipe ini terdapat pada sistem gerakan. Hampir semua gerakan terjadi di luar kontrol dan koordinasi gerak.
• Ataxia
Ciri khas tipe ini adalah seperti kehilangan keseimbangan. Kekakuan hanya dapat terlihat dengan jelas saat berdiri atau berjalan. Gangguan utama pada tipe ini terletak pada sistem koordinasi dan pusat keseimbangan pada otak. Akibatnya, anak tipe ini mengalami gangguan dalam hal koordinasi ruang dan ukuran. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah pada saat makan mulut terkatup terlebih dahulu sebelum sendok berisi makanan sampai ujung mulut.
• Tremor
Gejala yang tampak jelas pada tipe tremor adalah gerakan-gerakan kecil dan terus menerus berlangsung sehingga tampak seperti bentuk getaran-getaran. Gerakan itu dapat terjadi pada kepala, mata, tungkai, dan bibir.
• Rigid
Pada tipe ini dapat dijumpai kekakuan otot – tidak seperti pada tipe spastik – di mana gerakannya tampak tidak ada keluwesan.
• Tipe campuran
Anak pada tipe ini menunjukkan dua ataupun lebih jenis gejala CP sehingga akibatnya lebih berat bila dibandingkan dengan anak yang hanya memiliki satu tipe CP.
2. Kelainan pada sistem otot dan rangka ( musculus scelatel system)
Penggolongan anak tuna daksa ke dalam kelompok sistem otot dan rangka didasarkan pada letak penyebab kelainan anggota tubuh yang mengalami kelainan yaitu: kaki, tangan dan sendi, dan tulang belakang. Jenis-jenis kelainan sistem otak dan rangka antara lain meliputi
a. Poliomylitis
Penderita polio ini mengalami kelumpuhan otot sehingga otot akan mengecil dan tenaganya melemah. Peradangan akibat virus polio ini menyerang sumsum tulang belakang pada anak usia dua tahun sampai enam tahun.
b. Muscle Dystrophy
Anak mengalami kelumpuhan pada fungsi otot. Kelumpuhan pada penderita muscle dystrophy sifatnya progresif, semakin hari semakin parah. Kondisi kelumpuhannya bersifat simetris, yaitu pada kedua tangan saja atau kedua kaki saja, atau pada kedua tangan dan kaki. Penyebab terjadinya muscle distrophy belum diketahui secara pasti. Gejala anak menderita muscle dystrophy baru kelihatan setelah anak berusia tiga tahun, yaitu gerakan-gerakan yang lambat, di mana semakin hari keadaannya semakin mundur. Selain itu, jika berjalan sering terjatuh. Hal ini kemudian mengakibatkan anak tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya dan harus duduk di atas kursi roda
  1. D.    Penyebab Tuna Daksa
Ada beberapa macam sebab yang dapat menimbulkan kerusakan pada anak sehingga menjadi tunadaksa. Kerusakan tersebut ada yang terletak di jaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, serta pada sistem musculus skeletal. Terdapat keragaman jenis tunadaksa, dan masing-masing timbulnya kerusakan berbeda-beda. Dilihat dari waktu terjadinya, kerusakan otak dapat terjadi pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan sesudah lahir.
1. Sebelum lahir (fase prenatal)
Kerusakan terjadi pada saat bayi saat masih dalam kandungan
disebabkan:
a. Infeksi atau penyakit yang menyerang ketika ibu mengandung sehingga menyerang otak bayi yang sedang dikandungnya.
b. Kelainan kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu, tali pusar tertekan, sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf di dalam otak.
c. Bayi dalam kandungan terkena radiasi yang langsung mempengaruhi sistem syarat pusat sehingga struktur maupun fungsinya terganggu.
d. Ibu yang sedang mengandung mengalami trauma yang dapat mengakibatkan terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat. Misalnya, ibu jatuh dan perutnya terbentur dengan cukup keras dan secara kebetulan mengganggu kepala bayi, maka dapat merusak sistem syaraf pusat.
2. Saat kelahiran (fase natal/perinatal)
            Hal-hal yang dapat menimbulkan kerusakan otak bayi pada saat bayi dilahirkan antara lain:
a. Proses kelahiran yang terlalu lama karena tulang pinggang yang kecil pada ibu sehingga bayi mengalami kekurangan oksigen. Hal ini kemudian menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dalam otak bayi sehingga jaringan syaraf pusat mengalami kerusakan.
b. Pemakaian alat bantu berupa tang ketika proses kelahiran yang mengalami kesulitan sehingga dapat merusak jaringan syaraf otak pada bayi.
c. Pemakaian anestesi yang melebihi ketentuan. Ibu yang melahirkan karena operasi dan menggunakan anestesi yang melebihi dosis dapat mempengaruhi sistem persyarafan otak bayi sehingga otak mengalami kelainan struktur ataupun fungsinya.
3. Setelah proses kelahiran (fase post natal)
Fase setelah kelahiran adalah masa di mana bayi mulai dilahirkan sampai masa perkembangan otak dianggap selesai, yaitu pada usia lima tahun. Hal-hal yang dapat menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir adalah:
a. Kecelakaan/trauma kepala, amputasi.
b. Infeksi penyakit yang menyerang otak.
  1. E.     Perkembangan Kognitif  Anak Tuna Daksa
Proses perkembangan kognitif banyak ditentukan dari pengalaman-pengalaman individu sebagai hasil belajar. Proses perkembangan kognitif akan berjalan dengan baik apabila ada dukungan atau dorongan dari lingkungan. Seperti dikatakan Piaget bahwa setiap individu memiliki struktur kognitif dasar yang disebut schema (misalnya kemampuan untuk melakukan gerakan refleks, seperti menghisap, merangkak, dan gerakan refleks lainnya).schema ini akan berkembang melalui belajar. Proses adaptasi yang didahulukan dengan adanya persepsi.
Anak tuna daksa yang mengalami kerusakan alat tubuh, tidak ada masalah secara fisiologis dalam struktur kognitifnya. Masalah terjadi ketika anak tuna daksa mengalami hambatan dan mobilitas. Anak mengalami hambatan dalam melakukan dan mengembangkan gerakan-gerakan, sehingga sedikit banyak masalah ini mengakibatkan hambatan dalam perkembangan struktur  kognitif anak tuna daksa. Dalam pengukuran intelegensi pada anak tuna daksa, sering ditemukan angka intelegensi yang cukup tinggi. Namun potensi kognitif yang cukup tinggi pada anak-anak tuna daksa ini belum dapat difungsikan secara optimal. Hambatan mobilitas, masalah emosi, kepribadian akan mempengaruhi anak tuna daksa dalam melakukan eksplorasi keluar.
  1. F.     Perkembangan Sosial, Emosi, dan Kepribadian Anak Tuna Daksa
  2. Perkembangan Sosial Anak Tuna Daksa
Faktor utama terjadinya hambatan sosial ini bersumber pada sikap keluarga, teman-teman dan masyarakat. Ahmad Toha Muslim dan Sugiarmin (1996) menjelaskan bahwa sikap, perhatian keluarga dan lingkungan terhadap anak tuna daksa dapat mendorong yang bersangkutan untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi. Sebaiknya sikap-sikap positif yang ditunjukkan orang tua maupun teman-temannya akan lebih membantu anak dalam penerimaan diri terhadap kenyataan yang dihadapi, sehingga masalah-masalah perkembangan sosial dapat diatasi.
  1. Perkembangan Emosi Anak Tuna Daksa
Ketunaan yang ada pada anak tuna daksa secara khusus tidak akan menghambat dalam perkembangan emosi pada anak tuna daksa. Hambatan ini dialami setelah anak mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Seringnya ditolak, seringnya mengalami kegagalan ditambah lingkungan orangtua yang tidak menguntungkan, menyebabkan anak tuna daksa sering nampak muram, sedih dan jarang menampakkan rasa senang.
  1. Perkembangan Kepribadian Anak Tuna Daksa
Perkembangan kepribadian anak banyak ditemukan oleh pengalaman usia dini, keadaan fisik, kesehatan, pemberian cap dari orang lain, intelegensi, pola asuh orangtua dan sikap masyarakat. Pada usia dini anak tuna daksa mengalami gangguan dalam fungsi mobilitas, gangguan pada waktu merangkak, berguling, berdiri dan berjalan. Kondisi ini apabila didukung dengan sikap yang negative dari keluarga maupun masyarakat akan menjadikan pengalaman di usia dini yang sangat menyakitkan, dan dapat menjadikan pengalaman-pengalaman yang traumatis pada anak. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tin Suharmini (1988) dengan menggunakan tes grafis, ternyata ditemukan sebagian sebagian besar anak tuna daksa mempunyai perasaan yang rendah diri (minder), kurang percaya diri, kemasakan sosialnya kurang, emosional, menentang lingkungan, tertutup, mengalami kekecewaan hidup, dan kompensensi. 

      BAB III
      PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan makalah tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa, Secara definitive pengertian kelainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa) adalah ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya disebabkan oleh berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsi secara normal akibat luka, penyakit, atau pertumbuhan yang tidak sempurna sehingga untuk kepentingan pembelajarannya perlu layanan secara khusus. Seperti juga kondisi ketuntasan yang lain, kondisi kelainan pada fungsi anggota tubuh atau tunadaksa dapat terjadi pada saat sebelum anak lahir (prenatal), saat lahir (neonatal), dan setelah anak lahir (postnatal). Insiden kelainan fungsi anggota tubuh atau ketunadaksaan yang terjadi sebelum bayi lahir atua ketika dalam kandungan, diantaranya dikarenakan faktor genetik dan kerusakan pada system saraf pusat Sama seperti bentuk kelainan atau ketuntasan yang lain, kelainan fungsi anggota tubuh atau tunadaksa yang dialami seseorang memiliki konsekuensi atau akibat yang hampir serupa, terutama pada aspek kejiwaan penderita, baik berefek langsung maupun tidak langsung. Dalam konteks perkembangan kognitif menurut Gunarsa (1985) paling tidak ada empat aspek yang turut mewarnai, yaitu sebagai berikut: Kematangan, Pengalaman, Transmisi social dan Ekuilibrasi
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus diakses tanggal 22/09/2013.
http://www.slbk-batam.org/index.php?pilih=hal&id=73 diakses tanggal 22/09/2013

Definisi dan Karakter dari Tuna Daksa

Definisi dan Karakter dari Tuna Daksa


 TUNA DAKSA
PENGERTIAN
Definisi Tuna Daksa Menurut situs resmi Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Tuna Daksa berasal dari kata “Tuna“ yang berarti rugi, kurang dan “daksa“ berarti tubuh. Tunadaksa berarti suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal. Dalam banyak literitur cacat tubuh atau kerusakan tubuh tidak terlepas dari pembahasan tentang kesehatan sehingga sering dijumpai judul “Physical and Health Impairments“ (kerusakan atau gangguan fisik dan kesehatan). Hal ini disebabkan karena seringkali terdapat gangguan kesehatan.
Tuna daksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentu atau hambatan pada tulang, otot, atau sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit atau keceelakaan atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir (White House Conference, 1931).

KARAKTER/CIRI-CIRI BERDASARKAN LITERATUR
Karakteristik anak tuna daksa berdasarkan literatur :
1.        Karakteristik umum anak tunadaksa
Karakteristik umum anak tunadaksa ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang membentuknya. Hal ini berkaitan dengan beragamnya kecacatan dan tingkat kecacatan yang disandang anak tunadaksa, peran lingkungan yang membentuk dan juga sifat bawaan yang ada dalam diri anak tunadaksa.
 Adapun karakteristik secara umum adalah:
a.         Anggota gerak tubuh kaku/ lemah/ lumpuh
b.         Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali)
c.      Terdapat bagian angggota gerak yang tidak lengkap/ tidak sempurna/ lebih kecil dari biasanya
d.        Terdapat cacat pada alat gerak
e.         Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam
f.          Kesulitan pada saat berdiri/ berjalan/ duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal
g.         Hiperaktif/ tidak dapat tenang
2.        Karakteristik khusus anak tunadaksa
Karakteristik khusus anak tunadaksa ini subjeknya digolongkan menjadi dua yaitu anak yang mengalami kelainan sistem cerebral dan anak yang mengalami kelainan sistem muskulus skeletal.
Anak yang mengalami kelainan sistem cerebal, mereka mengalami gangguan dalam hal menangkap pesan-pesan yang disampaikan padanya, mengalami gangguan motorik, gangguan sensoris, mempunyai tingkat kecerdasan yang berentang mulai dari tingkat yang paling rendah sampai ke tingkat gifted, gangguan dalam hal persepsi, gangguan dalam hal simbolisasi, gangguan dalam hal emosi dan penyesuaian diri.
Sedangkan anak yang mengalami kelainan sistem muskulus skeletal, kelainan yang dialaminya dapat berupa kelumpuhan otot, kerusakan otot, dan kelainan otot yang mengakibatkan mereka mengalami hambatan dalam mobilisasi dan melakukan berbagai gerakan. Namun, sebagian besar anak penyandang kelainan sistem skeletal mempunyai tingkat kecerdasan normal karena kerusakan yang dialami tidak berhubungan secara langsung dengan otak. Meskipun demikian, ada juga yang mempunyai tingkat kecerdasan di bawah rata- rata anak normal lainnya.
Adapun karakteristik yang lainnya, anak berkelainan sistem muskulus skeletal mempunyai ketidakstabilan emosi. Hal ini dapat berupa mudah tersinggung, mudah marah, lekas putus asa, rendah diri, kurang dapat bergaul, malu, dan suka menyendiri. Ketidakstabilan emosi ini disebabkan oleh perkembangan pribadinya yang tidak ditunjang oleh lingkungannya, bukan karena kecacatan yang dialaminya.

TUNADAKSA

INFORMASI MENGENAI PENDIDIKAN
UNTUK ANAK TUNADAKSA

I. SIAPAKAH ANAK TUNADAKSA
Istilah yang sering digunakan untuk menyebut anak tunadaksa, seperti cacat fisik, tubuh atau cacat orthopedi. Dalam bahasa asingpun sering kali dijumpai istilah crippled, physically handicapped, physically disabled dan lain sebagainya. Keragaman istilah yang dikemukakan untuk menyebutkan tunadaksa tergantung dari kesenangan atau alasan tertentu dari para ahli yang bersangkutan. Meskipun istilah yang dikemukakan berbeda-beda, namun secara material pada dasarnya memiliki makna yang sama.
A. Pengertian Anak Tunadaksa
Tunadakasa berasal dari kata “ Tuna “ yang berarti rugi, kurang dan “daksa“ berarti tubuh. Dalam banyak literitur cacat tubuh atau kerusakan tubuh tidak terlepas dari pembahasan tentang kesehatan sehingga sering dijumpai judul “Physical and Health Impairments“ (kerusakan atau gangguan fisik dan kesehatan). Hal ini disebabkan karena seringkali terdapat gangguan kesehatan. Sebagai contoh, otak adalah pusat kontrol seluruh tubuh manusia. Apabila ada sesuatu yang salah pada otak (luka atau infeksi), dapat mengakibatkan sesuatu pada fisik/tubuh, pada emosi atau terhadap fungsi-fungsi mental, luka yang terjadi pada bagian otak baik sebelum, pada saat, maupun sesudah kelahiran, menyebabkan retardasi dari mental (tunagrahita)
B. Klasifikasi Anak Tunadaksa
Pada dasarnya kelainan pada anak tunadaksa dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (1) kelainan pada sistem serebral (Cerebral System), dan (2) kelainan pada sistem otot dan rangka (Musculus Skeletal System).
1. Kelaian pada sistem serebral (cerebral system disorders).
Penggolongan anak tunadaksa kedalam kelainan sistem serebral (cerebral) didasarkan pada letak penyebab kelahiran yang terletak didalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Kerusakan pada sistem syarap pusat mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial, karena otak dan sumsum tulang belakang sumsum merupakan pusat komputer dari aktivitas hidup manusia. Di dalamnya terdapat pusat kesadaran, pusat ide, pusat kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris dan lain sebagainya. Kelompok kerusakan bagian otak ini disebut Cerebral Palsy (CL).
Cerebral Palsy dapat diklasifikasikan menurut : (a) derajat kecacatan (b) topograpi anggota badan yang cacat dan (c) Sisiologi kelainan geraknya.
a. Penggolongan menurut derajat kecacatan
Menurut derajat kecacatan, cerebal palsy dapat digolongkan atas : golongan ringan, golongan sedang, dan golongan berat.
1.      Golongan ringan adalah : mereka yang dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya, meskipun cacat tetapi tidak mengganggu kehidupan dan pendidikannya.
2.      Golongan sedang : ialah mereka yang membutuhkan treatment/latihan khusus untuk bicara, berjalan, dan mengurus dirinya sendiri, golongan ini memerlukan alat-lat khusus untuk membantu gerakannya, seperti brace untuk membantu penyangga kaki, kruk/tongkat sebagai penopang dalam berjalan. Dengan pertolongan secara khusus, anak-anak kelompok ini diharapkan dapat mengurus dirinya sendiri.
3.      Golongan berat : anak cerebral palsy golongan ini yang tetap membutuhkan perawatan dalam ambulasi, bicara, dan menolong dirinya sendiri, mereka tidak dapat hidup mandiri ditengah-tengah masyarakat.
b. Penggolongan Menurut Topografi
Dilihat dari topografi yaitu banyaknya anggota tubuh yang lumpuh, Cerebrol Palsy dapat digolongkan menjadi 6 (enam) golongan yaitu:
1.      Monoplegia, hanya satu anggota gerak yang lumpuh misal kaki kiri sedang kaki kanan dan kedua tangannya normal.
2.      Hemiplegia, lumpuh anggota gerak atas dan bawah pada sisi yang sama, misalnya tangan kanan dan kaki kanan, atau tangan kiri dan kaki kiri.
3.      Paraplegia, lumpuh pada kedua tungkai kakinya.
4.      Diplegia, lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kedua kaki kanan dan kiri (paraplegia)
5.      Triplegia, tiga anggota gerak mengalami kelumpuhan, misalnya tangan kanan dan kedua kakinya lumpuh, atau tangan kiri dan kedua kakinya lumpuh.
6.      Quadriplegia, anak jenis ini mengalami kelumpuhan seluruhnya anggota geraknya. Mereka cacat pada kedua tangan dan kedua kakinya, quadriplegia disebutnya juga tetraplegia.
c. Penggolongan menurut Fisiologi, kelainan gerak dilihat dari segi letak kelainan di otak dan fungsi geraknya (motorik), anak Cerebral Palsy dibedakan atas:
1) Spastik
Type Spastik ini ditandai dengan adanya gejala kekejangan atau kekakuan pada sebagian ataupun seluruh otot. Kekakuan itu timbul sewaktu akan digerakan sesuai dengan kehendak. Dalam keadaan ketergantungan emosional kekakuan atau kekejangan itu akan makin bertambah, sebaliknya dalam keadaan tenang, gejala itu menjadi berkurang. Pada umumnya, anak CP jenis spastik ini memiliki tingkat kecerdasan yang tidak terlalu rendah. Diantara mereka ada yang normal bahkan ada yang diatas normal.
2) Athetoid
Pada tipe ini tidak terdapat kekejangan atau kekakuan. Otot-ototnya dapat digerakan dengan mudah. Ciri khas tipe ini terdapat pada sistem gerakan. Hampir semua gerakan terjadi diluar kontrol. Gerakan dimaksud adalah dengan tidak adanya kontrol dan koordinasi gerak.
3) Ataxia
Ciri khas tipe ini adalah seakan-akan kehilangan keseimbangan, kekakuan memang tidak tampak tetapi mengalami kekakuan pada waktu berdiri atau berjalan. Gangguan utama pada tipe ini terletak pada sistem koordinasi dan pusat keseimbangan pada otak. Akibatnya, anak tuna tipe ini mengalami gangguan dalam hal koordinasi ruang dan ukuran, sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari : pada saat makan mulut terkatup terlebih dahulu sebelum sendok berisi makanan sampai ujung mulut.
4) Tremor
Gejala yang tampak jelas pada tipe tremor adalah senantiasa dijumpai adanya gerakan-gerakan kecil dan terus menerus berlangsung sehingga tampak seperti bentuk getaran-getaran. Gerakan itu dapat terjadi pada kepala, mata, tangkai dan bibir.
5) Rigid
Pada tipe ini didapat kekakuan otot, tetapi tidak seperti pada tipe spastik, gerakannya tanpak tidak ada keluwesan, gerakan mekanik lebih tampak.
6) Tipe Campuran
Pada tipe ini seorang anak menunjukan dua jenis ataupun lebih gejala tuna CP sehingga akibatnya lebih berat bila dibandingkan dengan anak yang hanya memiliki satu jenis/tipe kecacatan.
2. Kelainan pada Sistem Otot dan Rangka (Musculus Scelatel System)
Penggolongan anak tunadaksa kedalam kelompok system otot dan rangka didasarkan pada letak penyebab kelainan anggota tubuh yang mengalami kelainan yaitu: kaki, tangan dan sendi, dan tulang belakang.
Jenis-jenis kelainan sistem otak dan rangka antara lain meliputi:
a. Poliomylitis
Penderita polio adalah mengalami kelumpuhan otot sehingga otot akan mengecil dan tenaganya melemah, peradangan akibat virus polio yang menyerang sumsum tulang belakang pada anak usia 2 (dua) tahun sampai 6 (enam) tahun.
b. Muscle Dystrophy
Anak mengalami kelumpuhan pada fungsi otot. Kelumpuhan pada penderita muscle dystrophy sifatnya progressif, semakin hari semakin parah. Kondisi kelumpuhannya bersifat simetris yaitu pada kedua tangan atau kedua kaki saja, atau kedua tangan dan kedua kakinya.
Penyebab terjadinya muscle distrophy belum diketahui secara pasti.
Tanda-tanda anak menderita muscle dystrophy baru kelihatan setelah anak berusia 3 (tiga) tahun melalui gejala yang tampak yaitu gerakan-gerakan anak lambat, semakin hari keadaannya semakin mundur jika berjalan sering terjatuh tanpa sebab terantuk benda, akhirnya anak tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya dan harus duduk di atas kursi roda.
II. APA PENYEBAB TUNADAKSA
Ada beberapa macam sebab yang dapat menimbulkan kerusakan pada anak hingga menjadi tunadaksa. Kerusakan tersebut ada yang terletak dijaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, pada sistem musculus skeletal. Adanya keragaman jenis tunadaksa dan masing-masing kerusakan timbulnya berbeda-beda. Dilihat dari saat terjadinya kerusakan otak dapat terjadi pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan sesudah lahir.
A. Sebab-sebab Sebelum Lahir (Fase Prenatal)
Pada fase, kerusakan terjadi pada saat bayi masih dalam kandungan, kerusakan disebabkan oleh:
1.      Infeksi atau penyakit yang menyerang ketika ibu mengandung sehingga menyerang otak bayi yang sedang dikandungnya, misalnya infeksi, sypilis, rubela, dan typhus abdominolis.
2.      Kelainan kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu, tali pusat tertekan, sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf di dalam otak.
3.      Bayi dalam kandungan terkena radiasi. Radiasi langsung mempengaruhi sistem syarat pusat sehingga struktur maupun fungsinya terganggu.
4.      Ibu yang sedang mengandung mengalami trauma (kecelakaan) yang dapat mengakibatkan terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat. Misalnya ibu jatuh dan perutnya membentur yang cukup keras dan secara kebetulan mengganggu kepala bayi maka dapat merusak sistem syaraf pusat.
B. Sebab-sebab pada saat kelahiran (fase natal, peri natal)
Hal-hal yang dapat menimbulkan kerusakan otak bayi pada saat bayi dilahirkan antra lain:
1.      Proses kelahiran yang terlalu lama karena tulang pinggang ibu kecil sehingga bayi mengalami kekurangan oksigen, kekurangan oksigen menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dalam otak bayi, akibatnya jaringan syaraf pusat mengalami kerusakan.
2.      Pemakaian alat bantu berupa tang ketika proses kelahiran yang mengalami kesulitan sehingga dapat merusak jaringan syaraf otak pada bayi.
3.      Pemakaian anestasi yang melebihi ketentuan. Ibu yang melahirkan karena operasi dan menggunakan anestesi yang melebihi dosis dapat mempengaruhi sistem persyarafan otak bayi, sehingga otak mengalami kelainan struktur ataupun fungsinya.
C. Sebab-sebab setelah Proses kelahiran (fase post natal)
Fase setelah kelahiran adalah masa mulai bayi dilahirkan sampai masa perkembangan otak dianggap selesai, yaitu pada usia 5 tahun.
Hal-hal yang dapat menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir adalah:
1. Kecelakaan/trauma kepala, amputasi.
2. Infeksi penyakit yang menyerang otak.
3. Anoxia/hipoxia.
III. KARAKTERISTIK ANAK TUNADAKSA.
Derajat keturunan akan mempengaruhi kemanpuan penyesuaian diri dengan lingkungan, kecenderungan untuk bersifat pasif. Demikianlah pada halnya dengan tingkah laku anak tunadaksa sangat dipengaruhi oleh jenis dan derajat keturunannya. Jenis kecacatan itu akan dapat menimbulkan perubahan tingkah laku sebagai kompensasi akan kekurangan atau kecacatan.
Ditinjau dari aspek psikologis, anak tunadaksa cenderung merasa malu, rendah diri dan sensitif, memisahkan diri dari llingkungan. Disamping karakteristik tersebut terdapat beberapa problema penyerta bagi anak tunadaksa antara lain:
·         Kelainan perkembangan/intelektual
·         Ganguan pendengaran.
·         Gangguan penglihatan.
·         Gangguan taktik dan kinestetik.
·         Gangguan pesepsi
·         Gangguan emosi.
IV. BAGAIMANA IMPLIKASI PENDIDIKAN ANAK TUNADAKSA
Dalam dunia Pendidikan pada prinsipnya guru mempunyai peranan ganda. Disatu pihak, guru berfungsi sebagai pengajar, pendidik, dan pelatih bagi anak didik. Dipihak lain, guru berfungsi sebagai pengganti orang tua murid di sekolah. Dengan demikian secara tidak langsung mereka dituntut untuk menjadi manusia serba bisa dan serba biasa, lebih-lebih bila dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan pada saat ini, yaitu bahwa orang tua dan masyarakat pada umumnya masih mempunyai anggapan yang keliru. Mereka berpendapat bahwa berhasil atau tidaknya pendidikan anak-anak mereka diserahkan sepenuhnya pada pihak sekolah, termasuk didalamnya para guru, tanpa ikut campur mereka.
Keadaan semacam ini lebih komplit lagi dalam dunia pendidikan luar biasa karena subjek didik yang dihadapi memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu, baik kemanpuan fisik, mental, emosi maupun dalam usaha penyesuaian diri dengan pihak luar atau lingkunagan sekitar. Oleh karena itu, tugas guru semakin berat yang dituntut keahlian serta keterampilan tertentu, baik dalam bidang metedologi yang bersifat khusus, maupun dalam bidang pelayanan terapi.
Pelayanan terapi yang diperlukan anak tunadaksa antara lain:
·         Latihan wicara (speech Therapy)
·         Fisioterapi
·         Occupational therapy
·         Hydro Therapy
Anak tunadaksa pada dasarnya sama dengan anak-anak normal lainnya. Kesamaan tersebut dapat dilihat dari fisik dan psiko-sosial. Dari segi fisik, mereka dapat makan, minum, dan kebutuhan yang tidak dapat ditunda dalam beberapa menit yaitu bernafas. Sedangkan dari aspek psiko-sosial, mereka memerlukan rasa aman dalam bermobilisasi, perlu afiliasi, butuh kasih sayang dari orang lain, diterima dan perlu pendidikan. Adapun unsur kesamaan kebutuhan antara anak tunadaksa dan anak normal, karena pada dasarnya mereka memiliki fitrah yang sama sebagai manusia.
Pandangan yang melihat anak tunadaksa dan anak normal dari sudut kesamaan akan lebih banyak memberikan layanan optimal untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, ketimbang pandangan yang semata-mata mengekspos segi kekurangannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang sering melihat orang lain tentang kelemahannya, sehingga yang muncul adalah kritik atau cemoohan. Kiranya demikian, andaikata kita melihat anak tunadaksa semata-mata dari kecacatannya. Oleh karena itu, pandangan yang mendahulukan sifat positif pada anak tunadaksa perlu dimasyarakatkan supaya kesempatan perkembangan dirinya yang baik semakin lebar. Pendidikan yang juga merupakan kebutuhan anak tunadaksa perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan mengacu pada kemampuan masing-masing anak tunasaksa. Melalui pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan. Anak-anak tunadaksa diharapkan memiliki masa depan yang tidak selalu bergantung pada orang tua dan masyarakat.
V. BAGAIMANA MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN
Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan bagi anak tidak selalu harus berlangsung disuatu lembaga pendidikan khusus, sebab sebagian dari mereka (anak tunadaksa) pendidikannya dapat berlangsung di sekolah dan kelas reguler/sekolah umum. Hal ini disebabkan oleh faktor kemampuan dan ketidakmampuan anak tunadaksa dan lingkungannya. Evelyn Deno, (1970) dan Ronald L Taylor, (1984) menjelaskan system layanan pendidikan bagi anak luar biasa (termasuk anak tunadaksa) yang bervariasi, mulai dari sistem pendidikan di kelas dan sekolah reguler/umum sampai pendidikan yang diberikan disuatu rumah sakit, bahkan sampai pada bentuk layanan yang tidak memiliki makna edukasi sama sekali, yakni layanan yang diberikan kepada anak-anak tunadaksa dalam perawatan medis dan bantuan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Dari kenyataan di lapangan bahwa anak tunadaksa memiliki problema penyerta. Problema penyerta ini berbeda-beda antara seorang anak tunadaksa yang satu dengan anak tunadaksa yang lainnya, tergantung dari pada penyebab ketunaannya, berat ringannya ketunaannya. Atas dasar kondisi anak tunadaksa tersebut, maka model pelayanan pendidikannya dibagi pada “Sekolah Khusus” dan “Sekolah Terpadu/Inklusi”.
A. Sekolah Khusus
Pelayanan pendidikan bagi anak tunadaksa di sekolah khusus ini diperuntukkan bagi anak yang mempunyai problema lebih berat, baik problema penyerta intelektualnya seperti retardasi mental maupun problema penyerta kesulitan lokomosi (gerakan) dan emosinya.
Di sekolah khusus ini pelayanan pendidikannya dibagi menjadi dua unit, yaitu unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa ringan, dan unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa sedang.
1. Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Ringan (SLB-D)
Pelayanan pendidikan diunit tunadaksa ringan atau SLB-D diperlukan bagi anak tunadaksa yang tidak mempunyai problema penyerta retardasi mental, yaitu anak tunadaksa yang mempunyai intelektual rata-rata atau bahkan di atas rata-rata intelektual anak normal. Namun anak kelompok ini belum ditempatkan di sekolah terpadu/sekolah umum karena anak masih memerlukan terapi-terapi, seperti fisio terapi, speech therapy, occuppational therapy dan atau terapi yang lain. Dapat juga terjadi anak tunadaksa tidak ditempatkan di sekolah reguler karena derajad kecacatannya terlalu berat.
2. Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Sedang (SLB-D1)
Pelayanan pendidikan diunit ini, diperuntukkan bagi anak tunadaksa yang mempunyai problema seperti, emosi, persepsi atau campuran dari ketiganya disertai problema penyerta retardasi mental. Kelompok anak tunadaksa sedang ini mempunyai intelektual di bawah rata-rata anak normal.
B. Sekolah Terpadu/Inklusi
Bagi anak tunadaksa dengan problema penyerta relatif ringan, dan tidak disertai dengan problema penyerta retardasi mental akan sangat baik jika sedini mungkin pelayanan pendidikannya disatukan dengan anak-anak normal lainnya di sekolah reguler/sekolah umum. Karena anak tunadaksa tersebut sudah dapat mengatasi problema fisik maupun intelektual serta emosionalnya.
Namun walaupun kondisi penyerta anak tunadaksa cukup ringan, sekolah reguler yang ditunjuk untuk melayani pendidikannya perlu persiapan yang matang terlebih dahulu, baik persiapan sarana maupun prasarananya. Seperti persiapan aksesibilitas misalnya meminimalkan trap-trap atau tangga-tangga. Jika memungkinkan dibuatkan ramp-ramp untuk akses kursi roda, atau bagi anak yang khusus menggunakan alat bantu jalan lainnya seperti kruk atau wolker. Bentuk meja atau kursi belajar disesuaikan dengan kondisi anak. Hal demikian memerlukan persiapan yang lebih terencana, sehingga tidak menimbulkan problema tambahan bagi anak tunadaksa. Juga bentuk toilet, kloset harus dapat dipergunakan bagi anak yang menggunakan kursi roda. Disamping itu sistem guru kunjung dapat membantu memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada anak tunadaksa dikemudian hari.
VI. KETENAGAAN KHUSUS, KURIKULUM DAN ADMINISTRASI
A. Ketenagaan
1. Tenaga Kependidikan
Tenaga kependidikan untuk Pendidikan Luar Biasa bagian D (tunadaksa) adalah guru yang secara khusus mempersiapkan diri untuk mengajar anak tunadaksa yang mempunyai berbagai masalah dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai dengan Tingkat Menengah. Disamping itu juga dapat merencanakan dan melaksanakan tugas pendidikan bagi anak yang sedang dalam perawatan karena operasi.
a. Tenaga Guru yang Diperlukan adalah :
1.      Guru Kelas atau Guru Bidang Studi
2.      Guru Keterampilan
3.      Guru Agama
4.      Guru Olahraga
b. Persyaratan Tenaga Guru/Pendidik adalah:
1.      Tamatan minimal SGPLB, sarjana muda/DIII, sarjana pendidikan luar biasa dari IKIP/Universitas.
2.      Untuk guru agama dari PGA, DIII, S1 IAIN atau sederajat.
3.      Untuk guru olahraga dari DIII, S1 IKIP atau Universitas.
4.      Untuk guru keterampilan DIII, S1 IKIP/Universitas
5.      Untuk guru bidang studi minimal DIII, S1 IKIP/Universitas dari jurusan yang sesuai.
2. Tenaga Ahli
Tenaga Ahli yang diperlukan untuk:
a. Remedial Teaching
Guru yang mendapat tugas khusus untuk remedial atau bertugas memberi bimbingan dan penyuluhan.
b. Team Rehabilitasi
- Dokter umum
- Dokter anak
- Dokter anak pediatry
- Dokter orthopedi
- Psikolog
- Orthopedagogik
- Speech therapist
- Occupational therapist
- Pekerja sosial
3. Tenaga Administrasi
Tenaga administrasi untuk pendidikan luar biasa bagian D (tunadaksa) adalah :
a. Kepala Sekolah
b. Wakil Kepala Sekolah
c. Bendahara
d. Tenaga Usaha, yang dapat melaksanakan : agendaris, inventaris dan pengetikan
e. Pesuruh/pembantu sekolah
4. Penjaga Sekolah/SATPAM
Petugas yang diberi wewenang untuk menjaga keamanan/memelihara ketertiban sekolah.
B. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum PLB tahun 1994, yang terdiri dari :
1. Landasan Program
2. Garis-garis Program Pengajaran
3. Pedoman Pelaksanaan
C. Administrasi
Administrasi yang digunakan adalah administrasi yang sesuai dengan pedoman administrasi yang telah dibukukan antara lain :
1. Administrasi Program Pengajaran
2. Administrasi Kepegawaian
3. Administrasi Keuangan
4. Administrasi Perlengkapan dan Barang.